Hidup sarat perpisahan, saya kira. Saya curiga, mungkin
hidup itu sendiri adalah perpisahan. Salah seorang guru saya pernah berujar
bahwa keniscayaan dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Sampai-sampai saya
mulai berfikir untuk mengurangi intensitas bertemu dengan orang-orang baru demi
mengantisipasi terjadinya perpisahan yang kebanyakan tidak mengenakkan. Dan
setelah saya renungkan, ini dikategorikan usaha yang sia-sia.
Seperti juga pertemuan yang hampir selalu menemukan kesan.
Perpisahan, yang keberadaannya selalu saya kutuk justru diam-diam meninggalkan
pelajaran yang baru saya cerna ketika nyaris menghadapi pertemuan baru.
Bagaimana awalnya saya menyesali kepergian mamak. Mengajukan
pertanyaan seolah-olah di sana ada pilihan tentang siapa yang akan diambil
nyawanya oleh Tuhan lebih dahulu. Bukankah Tuhan akan mengirimkan pertanda
berupa penyakit kepada siapa yang ingin Dia panggil? Mamak, dia sedang sangat
sehat hari itu. Dan bagaimana dengan orang yang sudah bertahun-tahun tubuhnya
dihuni penyakit namun belum dipanggil jua?
Tetapi, siapa yang tahu rencana Tuhan? Siapa yang tahu yang
tidak kita ketahui?
Dan setelahnya, saya sadar betapa itu adalah pertanyaan
paling konyol yang pernah saya ajukan.
Mamak nyaris
tidak pernah mengajari dan menuntut saya secara langsung. Tetapi perbuatan,
pemikiran dan pengorbanannya membuat saya merasa perlu untuk mengajari diri
sendiri. Mamak adalah perempuan yang paling tangguh dibanding perempuan manapun
di muka bumi yang pernah saya temui (terdengar agak primordial memang, tetapi
begitulah). Ibu manapun di muka bumi selalu melakukan yang terbaik untuk
anaknya. Bukan begitu?
Dan saya merasa
perlu untuk bertanggungjawab atas pernyataan ini. Bagaimana mamak menguatkan
diri dan begitu tegar ketika (juga) menghadapi perpisahan; mengurusi anak-anak; mempunyai jabatan rangkap dalam keluarga kami
sebagai kepala keluarga yang tegas sekaligus
ibu yang penyayang, pemaaf, cerdas, lagi pengertian. Mamak adalah satu-satunya
yang mengerti dan tak pernah lupa bahwa anak-anaknya ini tidak suka kuning
telur, dan (lagi) mamak tak pernah tenang keluar rumah untuk bekerja sebelum
memastikan ada sedikit saja makanan yang bisa dinikmati anaknya sepulang mereka
ke rumah. Ngomong-ngomong, (almh) mamak saya pintar masak, saya rindu ikan asam
manis buatannya.
Mamak mengajarkan
saya bahkan setelah dia tiada. Kepergian mamak, membuat kadar cinta saya untuk
ayah bertambah. Setidaknya. Saya ingat, dulu sekali ketika saya masih di
Sekolah Dasar dan kami masih hidup nomaden, mamak pernah
bilang, -bagaimanapun, ayah tetaplah ayah kalian. Boleh saja ada sebutan mantan istri tapi tak ada mantan anak. Jangan dendam.- Ya, bagaimanapun.
Pada akhirnya
saya tahu dan cukup sadar. Ayah juga punya pengorbanan yang cukup besar untuk kami
dalam kapasitasnya sendiri sebagai seorang ayah dan pencari nafkah. Dan saya
rasa tidak ada yang perlu ditaruh benci dalam hal ini. Sekali lagi, mamak
adalah yang tidak bisa saya remehkan kalau soal memberi maaf.
Lalu kami, yang
berempat ini. Tinggal mengatur siasat bagaimana menjaga satu sama lain. Dua abang
yang mau tak mau menjadi ekstra perhatian, ekstra tanggung jawab mulai dari
masalah-masalah besar hingga hal-hal kecil, bahkan sampai urusan mengurus
ketersediaan bawang di dapur. Mau tak mau, kami harus menjadi lebih dewasa,
lebih peduli, dan lebih baik dari sebelumnya.
Saya dalam tahap
memperbaiki dan mempersiapkan diri dalam menghadapi perpisahan-perpisahan baru.
Karena sesungguhnya, setiap pertemuan selalu dibayangi perpisahan. Setiap yang
hidup pasti akan menemui mati.
-snr
