Senin, 21 April 2014

(Sedikit saja) tentang Perpisahan



Hidup sarat perpisahan, saya kira. Saya curiga, mungkin hidup itu sendiri adalah perpisahan. Salah seorang guru saya pernah berujar bahwa keniscayaan dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Sampai-sampai saya mulai berfikir untuk mengurangi intensitas bertemu dengan orang-orang baru demi mengantisipasi terjadinya perpisahan yang kebanyakan tidak mengenakkan. Dan setelah saya renungkan, ini dikategorikan usaha yang sia-sia. 

Seperti juga pertemuan yang hampir selalu menemukan kesan. Perpisahan, yang keberadaannya selalu saya kutuk justru diam-diam meninggalkan pelajaran yang baru saya cerna ketika nyaris menghadapi pertemuan baru. 

Bagaimana awalnya saya menyesali kepergian mamak. Mengajukan pertanyaan seolah-olah di sana ada pilihan tentang siapa yang akan diambil nyawanya oleh Tuhan lebih dahulu. Bukankah Tuhan akan mengirimkan pertanda berupa penyakit kepada siapa yang ingin Dia panggil? Mamak, dia sedang sangat sehat hari itu. Dan bagaimana dengan orang yang sudah bertahun-tahun tubuhnya dihuni penyakit namun belum dipanggil jua?

Tetapi, siapa yang tahu rencana Tuhan? Siapa yang tahu yang tidak kita ketahui?

Dan setelahnya, saya sadar betapa itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah saya ajukan.
Mamak nyaris tidak pernah mengajari dan menuntut saya secara langsung. Tetapi perbuatan, pemikiran dan pengorbanannya membuat saya merasa perlu untuk mengajari diri sendiri. Mamak adalah perempuan yang paling tangguh dibanding perempuan manapun di muka bumi yang pernah saya temui (terdengar agak primordial memang, tetapi begitulah). Ibu manapun di muka bumi selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya. Bukan begitu?
Dan saya merasa perlu untuk bertanggungjawab atas pernyataan ini. Bagaimana mamak menguatkan diri dan begitu tegar ketika (juga) menghadapi perpisahan;  mengurusi anak-anak;  mempunyai jabatan rangkap dalam keluarga kami sebagai  kepala keluarga yang tegas sekaligus ibu yang penyayang, pemaaf, cerdas, lagi pengertian. Mamak adalah satu-satunya yang mengerti dan tak pernah lupa bahwa anak-anaknya ini tidak suka kuning telur, dan (lagi) mamak tak pernah tenang keluar rumah untuk bekerja sebelum memastikan ada sedikit saja makanan yang bisa dinikmati anaknya sepulang mereka ke rumah. Ngomong-ngomong, (almh) mamak saya pintar masak, saya rindu ikan asam manis buatannya.
Mamak mengajarkan saya bahkan setelah dia tiada. Kepergian mamak, membuat kadar cinta saya untuk ayah bertambah. Setidaknya. Saya ingat, dulu sekali ketika saya masih di Sekolah Dasar dan kami masih hidup nomaden, mamak pernah bilang, -bagaimanapun, ayah tetaplah ayah kalian. Boleh saja ada sebutan mantan istri tapi tak ada mantan anak. Jangan dendam.-    Ya, bagaimanapun.
Pada akhirnya saya tahu dan cukup sadar. Ayah juga punya pengorbanan yang cukup besar untuk kami dalam kapasitasnya sendiri sebagai seorang ayah dan pencari nafkah. Dan saya rasa tidak ada yang perlu ditaruh benci dalam hal ini. Sekali lagi, mamak adalah yang tidak bisa saya remehkan kalau soal memberi maaf.
Lalu kami, yang berempat ini. Tinggal mengatur siasat bagaimana menjaga satu sama lain. Dua abang yang mau tak mau menjadi ekstra perhatian, ekstra tanggung jawab mulai dari masalah-masalah besar hingga hal-hal kecil, bahkan sampai urusan mengurus ketersediaan bawang di dapur. Mau tak mau, kami harus menjadi lebih dewasa, lebih peduli, dan lebih baik dari sebelumnya.
Saya dalam tahap memperbaiki dan mempersiapkan diri dalam menghadapi perpisahan-perpisahan baru. Karena sesungguhnya, setiap pertemuan selalu dibayangi perpisahan. Setiap yang hidup pasti akan menemui mati. 

-snr