Rabu, 13 Mei 2015

Menjadi Ganjil

Saya berjanji akan menyelesaikan tulisan ini sebelum hari ke-44 berpulangnya abang pertama saya. Celakanya saya jika tidak memenuhi hajat tersebut. Perkara menulis, saya masih sangat pandir. Masih perlu berguru pada buku maupun masa lalu. Selebihnya, segala yang pernah saya tulis hanyalah sebentuk upaya agar yang masih lekat diingat tak menjadi lupa menghebat. Perihal yang kadung lupa, sudahlah.

Muhammad Yuda Rizki, abang pertama saya. Abang terbaik dari yang paling baik. Saya tidak pernah menyangka akan menyematkan ‘almarhum’ pada namanya selekas ini. Saat saya masih begitu ingin dikuatkan, dipercayakan, dan ditenangkan dalam menghadapi segala macam keseharian. Tetapi ketika sudah pada waktunya, tak ada pilihan selain merelakan.

Beberapa paragraf ini sengaja saya tulis untuk almarhum. Bukan apa-apa, saya hanya merasa perlu untuk menulis perihal apa saja yang mampu saya tulis tentang abang periang itu. Mengingat Bang Riki yang rupa-rupanya sering membaca blog saya dan melambungkan blog murahan ini pada beberapa orang temannya. Sayangnya, saya baru mengetahui hal ini setelah Bang Riki tiada. Jika tidak, saya dengan senang hati ingin melihat wajahnya memerah karena ketahuan stalking. Dengan senang hati.

***
Satu setengah tahun lalu, ketika mamak tiba-tiba meninggalkan kami, sedih memang tak tertahankan, namun ada satu hal yang membuat saya menjadi adik perempuan yang tegar saat itu, bahwa masih ada dua orang abang yang melindungi saya melebihi siapapun.

Dan tahun ini, ujian terberat kembali datang. Kehilangan seorang abang yang penuh tawa dan hangat dengan cara yang tiba-tiba. Ketidaksangkaan saya yang lain bahwa Tuhan menguji saya dengan cara yang seperti ini. Dulu, saya hanya pernah melihat musibah serupa ini di berita-berita televisi atau membacanya sepintas di surat kabar, yang sudah tentu bukan saya pengalamnya. Lalu, apa yang terjadi sekarang adalah Tuhan hanya ingin saya naik tingkat dengan ujian yang tak pernah saya duga. Semoga begitu.

Saya ingat, dulu ketika kami ditinggalkan mamak dengan cara yang juga tiba-tiba. Kami berempat saling menguatkan. Bang riki merangkul saya sembari mengingatkan jangan menangis. Kemudian saya menahan tangis demi menjadi anak sekaligus adik yang tabahnya tiada tanding. Kali ini, ketika bang riki yang pergi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk tidak menangis. Namun saya belum mampu.

Siapapun. Tak akan pernah siap untuk kehilangan, apalagi pada taraf untuk-selamanya.

Terlalu banyak kenangan yang dicipta waktu tentang kami. Hidup bersama, segala jenis ujian sudah kami cecap. Bagaimana kami saling menguatkan ketika sama-sama menemui kesulitan dalam hidup. Saling menuduh tetapi pada banyak waktu malah membela. Saling menertawakan tetapi diam-diam mendengarkan. Saling mengejek tapi melindungi ketika adiknya diejek orang. Bersikap seolah-olah tidak peduli namun menyimpan begitu banyak kekhawatiran tentang kami, adik-adiknya.

Sebagai adik, Bang Riki memang bukan abang yang sempurna. Tetapi saya percaya bahwa dalam ketidaksempurnaannya, dia selalu berusaha menjadi yang sebaik-baiknya abang bagi kami. Yang paling saya senangi darinya adalah wajah yang selalu terlihat tenang dalam segala situasi, padahal saya tahu pasti di dalam dirinya ada banyak ketidaksanggupan yang ia keluhkan.

Mengingat Bang Riki, adalah ingatan tentang melihatnya mengendarai sepeda motor pertama kali di halaman rumah saat saya berumur tujuh tahun. Ingatan tentang kami yang sering berbagi uang jajan saat sekolah dulu. Ingatan tentang Bang Riki yang sering mengantar saya sekolah sampai pada suatu hari kunci motornya patah saat mengisi bensin. Kemudian ingatan tentang Bang Riki yang mengajari saya mengendarai mobil dan tidak jarang memarahi saya ketika lupa menarik rem tangan. Tentang Bang Riki yang tidak gengsi berteman dengan teman-teman saya. Tentang Bang Riki yang sebelum mamak meninggal sangat susah untuk dibangunkan ketika sahur. Tentang Bang Riki yang pada tengah malam mau menjemput saya saat ada proyek ‘musykil’ dari seorang dosen. Atau Bang Riki yang tiba-tiba menggoreng telur untuk makan malam teman saya ketika mereka menginap di rumah. Dan masih banyak memori tentangnya yang tak habis saya tulis.

Saya masih hidup dengan segenap ingatan itu. Atas nama menjalani hidup dengan damai dan menjadi manusia yang berbahagia, saya tidak akan berharap untuk tidak lagi diberikan ujian. Sebab saya percaya pada apa yang direncanakan Tuhan atas hidup saya. Saya hanya memohon agar selalu diberikan ketabahan yang lebih atas setiap ujian, termasuk kehilangan lagi nantinya.

2 May 2015