Rabu, 19 Agustus 2015

Sop dan Es Teler

Saya sudah empat kali mengubah kalimat yang akan menjadi pembuka tulisan ini. Saya nyaris selalu payah dalam hal memulai sesuatu, termasuk menulis, dan mengingat kalau boleh ditambahi. Dan jadilah tulisan ini diprakatai informasi yang tidak esensial. Harap maklum.

Beberapa tahun ini adalah tahun yang amat sengit. Dua tahun ini membuat saya berserah habis-habisan atas apa yang sudah dan akan ditakdirkan Tuhan atas hidup saya. Ada banyak hal tak terduga yang terjadi. Setiap kali bangun tidur dan mendapati diri masih bernafas, saya semakin disadarkan bahwa hidup bisa saja menjadi lebih keras dari kemarin. Namun bagaimanapun mahirnya kita menangkap isyarat hidup, tak ada yang mampu menerka perihal rencana Tuhan, bukan?

Saya sudah dipertemukan lagi dengan ramadhan tahun ini. Rasanya baru kemarin ramadhan tahun lalu itu datang saat kami masih tinggal berempat bersama almarhum abang pertama saya. Dan kemarinnya lagi ramadhan dua tahun lalu, sewaktu kami berempat masih bersama almarhumah mamak. Kami berlima menjalani puasa bersama-sama, dengan sederhana dan sejumput kebahagiaan.

Saya masih sangat ingat, awal ramadhan dua tahun lalu mamak sedang kurang sehat, namun beliau masih membuatkan sop untuk kami di hari meugang. Mamak seperti takut kalau kami tak bisa merasakan masakannya sehari saja. Apalagi hari ketika banyak onggokan daging merah segar berjajar di tepi jalan, bertambahlah ketakutannya. Mungkin mamak khawatir tidak bisa menjadi ibu yang hebat bagi kami. Mungkin juga mamak belum tahu kalau dari kandungan sampai kapanpun, beliau adalah satu-satunya perempuan yang kemampuannya untuk memahami belum mampu kami tandingi. Dan perayaan seperti ini membuat rindu saya menguat.

Ingatan saya juga masih sangat segar tentang abang pertama saya, Bang Riki. Menjelang buka puasa, satu gelas es teler sudah duduk manis di meja makan. Gelas tersebut adalah miliknya seorang. Selalu saja ada sisa es teler yang ia simpan di kulkas untuk persiapan setelah tarawih. Es teler menjadi menu favorit beliau untuk berbuka. Sepertinya, es teler satu-satunya yang mampu membuat Bang Riki jatuh hati sampai tak ada celah untuk perasaan jemu. Saya juga rindu abang yang kalem itu. Selalu dan sangat.

Sop dan es teler hanya sebentuk entitas yang biasa saja namun punya pangkal cerita yang cukup efektif membuat mata saya sembab lalu pipi dihujani airnya. Dan seketika itu, sop dan es teler menjadikan saya gadis yang melankolis sekaligus kian religius. Rindu yang datang bertubi-tubi membuat saya mengirim doa berkali-kali. Berharap doa dapat menyampaikan rindu saya yang amat sangat pada dua orang terkasih ini. Doa, satu-satunya yang paling masuk akal bagi siapapun dalam rangka mengatasi rindu pada mereka yang lebih dulu tiada.

Alfatihah.

snr

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Tulisannya sangat menarik kak, tidak terlalu hiperbola tapi langsung menyimpan sajak2 indah yang mampu membasahi hati.