Saya sudah empat kali mengubah
kalimat yang akan menjadi pembuka tulisan ini. Saya nyaris selalu payah dalam
hal memulai sesuatu, termasuk menulis, dan mengingat kalau boleh ditambahi. Dan
jadilah tulisan ini diprakatai informasi yang tidak esensial. Harap maklum.
Beberapa tahun ini adalah tahun
yang amat sengit. Dua tahun ini membuat saya berserah habis-habisan atas apa yang
sudah dan akan ditakdirkan Tuhan atas hidup saya. Ada banyak hal tak terduga
yang terjadi. Setiap kali bangun tidur dan
mendapati diri masih bernafas, saya semakin disadarkan bahwa hidup bisa saja
menjadi lebih keras dari kemarin. Namun bagaimanapun mahirnya kita menangkap
isyarat hidup, tak ada yang mampu menerka perihal rencana Tuhan, bukan?
Saya sudah dipertemukan lagi
dengan ramadhan tahun ini. Rasanya baru kemarin ramadhan tahun lalu itu datang
saat kami masih tinggal berempat bersama almarhum abang pertama saya. Dan
kemarinnya lagi ramadhan dua tahun lalu, sewaktu kami berempat masih bersama almarhumah
mamak. Kami berlima menjalani puasa bersama-sama, dengan sederhana dan sejumput
kebahagiaan.
Saya masih sangat ingat, awal
ramadhan dua tahun lalu mamak sedang kurang sehat, namun beliau masih membuatkan
sop untuk kami di hari meugang. Mamak seperti takut kalau kami tak bisa
merasakan masakannya sehari saja. Apalagi hari ketika banyak onggokan daging
merah segar berjajar di tepi jalan, bertambahlah ketakutannya. Mungkin mamak
khawatir tidak bisa menjadi ibu yang hebat bagi kami. Mungkin juga mamak belum
tahu kalau dari kandungan sampai kapanpun, beliau adalah satu-satunya perempuan
yang kemampuannya untuk memahami belum mampu kami tandingi. Dan perayaan
seperti ini membuat rindu saya menguat.
Ingatan saya juga masih sangat
segar tentang abang pertama saya, Bang Riki. Menjelang buka puasa, satu gelas
es teler sudah duduk manis di meja makan. Gelas tersebut adalah miliknya
seorang. Selalu saja ada sisa es teler yang ia simpan di kulkas untuk persiapan
setelah tarawih. Es teler menjadi menu favorit beliau untuk berbuka. Sepertinya,
es teler satu-satunya yang mampu membuat Bang Riki jatuh hati sampai tak ada
celah untuk perasaan jemu. Saya juga rindu abang yang kalem itu. Selalu dan
sangat.
Sop dan es teler hanya sebentuk
entitas yang biasa saja namun punya pangkal cerita yang cukup efektif membuat
mata saya sembab lalu pipi dihujani airnya. Dan seketika itu, sop dan es teler
menjadikan saya gadis yang melankolis sekaligus kian religius. Rindu yang
datang bertubi-tubi membuat saya mengirim doa berkali-kali. Berharap doa dapat
menyampaikan rindu saya yang amat sangat pada dua orang terkasih ini. Doa, satu-satunya yang paling masuk akal bagi siapapun dalam rangka mengatasi rindu
pada mereka yang lebih dulu tiada.
Alfatihah.
snr
1 komentar:
Tulisannya sangat menarik kak, tidak terlalu hiperbola tapi langsung menyimpan sajak2 indah yang mampu membasahi hati.
Posting Komentar