Bahwa kita masih diberi
kesempatan bersua dengan ramadhan tahun ini adalah yang patut disyukuri, itu
pertama. Dan mohon maaf atas segala kesalahan yang terbuat ataupun dibuat, itu
kedua.
Aku ingin memulai ‘meditasi’ ini
dengan pernyataan ‘Ramadhan ini sungguh amat sangat berbeda’.
Aku mulai menyadari
ketidaksamaannya sejak beberapa bulan yang lalu. Persis setelah siuman bahwa
akan tidak ada lagi mamak yang dengan semangatnya membuat sop sum-sum untuk
kami ketika meugang tiba. Bahwa tak
ada lagi mamak yang memarahiku karena telah salah membeli daging meugang ramadhan
tahun lalu. Bahwa tak ada lagi suara mamak ketika membangunkan anak-anaknya
untuk makan sahur. Bahwa tak akan tampak lagi betapa sibuknya mamak menyiapkan
makanan untuk berbuka. Bahwa tidak ada lagi mamak yang dengan terkantuk-kantuk
duduk di sampingku ketika shalat tarawih di masjid dekat rumah, mamak terlalu
lelah mengurus semuanya sendiri.
Tak terdengar lagi merdunya suara mamak
mengaji ketika subuh merangkak pagi. Bahwa tak ada lagi suara mesin jahit yang
digerakkannya ketika menunggu sirine berbunyi. Bahwa tak ada lagi mamak yang
begitu tenang ketika anaknya yang paling bungsu sibuk menanyakan baju lebaran. Bahwa
tak ada lagi mamak yang ramadhan kemarin mengajariku membuat kulit risol. Tak ada
lagi mamak yang dengan antusiasnya menyambut lebaran bersama segentong besar
lontong yang dimasaknya khusus untuk kami.
Bahwa yang ada di rumah kami
sekarang hanya aku, dua orang abang, dan seorang adik laki-laki tampan, serta
sederetan rekaman kami bersama mamak yang tersemat di setiap inci sudut rumah. 2013
adalah ramadhan terakhir kami bersama mamak.
Siapa yang sangka bahwa
permintaan mamak kemarin itu untuk foto bersama adalah permintaannya yang
terakhir, sekaligus foto bersama kami yang pertama dan terakhir setelah belasan
tahun, tanpa ayah. Dan sungguh penyesalan yang amat besar jadinya bagiku jika
saja kutolak ajakannya yang tiba-tiba waktu itu.
Kami tak pernah memakai baju
seragam keluarga dan memang tak punya. Entah apa sebabnya. Tetapi hari itu,
mamak berujar bahwa bulan puasa tahun depan akan dibuatnya. Bulan puasa tahun
depan sudah tiba, Mak, namun kau sudah kembali lebih dulu. Tapi tak apa, bukan masalah
besar, Mak. Anak-anakmu ini setabah dirimu, percayalah.
Aku benar-benar tiba pada
ramadhan ini dengan usia yang sudah delapan belas tahun, menuju sembilan belas
(cukup ranum untuk disapa kakak dan memang sudah jadi keharusan untuk menjadi
kakak-kakak yang seutuhnya).
Ramadhan tahun lalu, aku masih
berada di masa transisi antara siswa menuju mahasiswa. Ramadhan tahun ini aku adalah
manusia sok sibuk yang itu (manusia sok sibuk, bukan mahasiswa). Ramadhan
tahun lalu, aku adalah yang se’mengkek-mengkek’nya anak perempuan. Ramadhan
tahun ini, aku mestilah anak perempuan yang dihisabkan eksistensinya.
Sembari memburu jati diri, aku
masih anak perempuan yang selalu ingin jadi lebih baik. Meski sekali waktu
menjelma manusia dengan perangai maha-mentelnya, yakinlah itu hanya sebentuk usaha
menghibur diri. Selebihnya tetap biasa saja.
Oke, sudah pukul 3 pagi. Mari tidur
beberapa jenak jika ingin, sebelum bangun lagi untuk sahur perdana di pembuka Ramadhan
2014.
snr