Sabtu, 28 Juni 2014

Sebentuk Kontemplasi...



Bahwa kita masih diberi kesempatan bersua dengan ramadhan tahun ini adalah yang patut disyukuri, itu pertama. Dan mohon maaf atas segala kesalahan yang terbuat ataupun dibuat, itu kedua. 

Aku ingin memulai ‘meditasi’ ini dengan pernyataan ‘Ramadhan ini sungguh amat sangat berbeda’. 

Aku mulai menyadari ketidaksamaannya sejak beberapa bulan yang lalu. Persis setelah siuman bahwa akan tidak ada lagi mamak yang dengan semangatnya membuat sop sum-sum untuk kami ketika meugang tiba. Bahwa tak ada lagi mamak yang memarahiku karena telah salah membeli daging meugang ramadhan tahun lalu. Bahwa tak ada lagi suara mamak ketika membangunkan anak-anaknya untuk makan sahur. Bahwa tak akan tampak lagi betapa sibuknya mamak menyiapkan makanan untuk berbuka. Bahwa tidak ada lagi mamak yang dengan terkantuk-kantuk duduk di sampingku ketika shalat tarawih di masjid dekat rumah, mamak terlalu lelah mengurus semuanya sendiri.

Tak terdengar lagi merdunya suara mamak mengaji ketika subuh merangkak pagi. Bahwa tak ada lagi suara mesin jahit yang digerakkannya ketika menunggu sirine berbunyi. Bahwa tak ada lagi mamak yang begitu tenang ketika anaknya yang paling bungsu sibuk menanyakan baju lebaran. Bahwa tak ada lagi mamak yang ramadhan kemarin mengajariku membuat kulit risol. Tak ada lagi mamak yang dengan antusiasnya menyambut lebaran bersama segentong besar lontong yang dimasaknya khusus untuk kami. 

Bahwa yang ada di rumah kami sekarang hanya aku, dua orang abang, dan seorang adik laki-laki tampan, serta sederetan rekaman kami bersama mamak yang tersemat di setiap inci sudut rumah. 2013 adalah ramadhan terakhir kami bersama mamak. 

Siapa yang sangka bahwa permintaan mamak kemarin itu untuk foto bersama adalah permintaannya yang terakhir, sekaligus foto bersama kami yang pertama dan terakhir setelah belasan tahun, tanpa ayah. Dan sungguh penyesalan yang amat besar jadinya bagiku jika saja kutolak ajakannya yang tiba-tiba waktu itu. 

Kami tak pernah memakai baju seragam keluarga dan memang tak punya. Entah apa sebabnya. Tetapi hari itu, mamak berujar bahwa bulan puasa tahun depan akan dibuatnya. Bulan puasa tahun depan sudah tiba, Mak, namun kau sudah kembali lebih dulu. Tapi tak apa, bukan masalah besar, Mak. Anak-anakmu ini setabah dirimu, percayalah. 

Aku benar-benar tiba pada ramadhan ini dengan usia yang sudah delapan belas tahun, menuju sembilan belas (cukup ranum untuk disapa kakak dan memang sudah jadi keharusan untuk menjadi kakak-kakak yang seutuhnya).

Ramadhan tahun lalu, aku masih berada di masa transisi antara siswa menuju mahasiswa. Ramadhan tahun ini aku adalah manusia sok sibuk yang itu (manusia sok sibuk, bukan mahasiswa). Ramadhan tahun lalu, aku adalah yang se’mengkek-mengkek’nya anak perempuan. Ramadhan tahun ini, aku mestilah anak perempuan yang dihisabkan eksistensinya. 

Sembari memburu jati diri, aku masih anak perempuan yang selalu ingin jadi lebih baik. Meski sekali waktu menjelma manusia dengan perangai maha-mentelnya, yakinlah itu hanya sebentuk usaha menghibur diri. Selebihnya tetap biasa saja.

Oke, sudah pukul 3 pagi. Mari tidur  beberapa jenak jika ingin, sebelum bangun lagi untuk sahur perdana di pembuka Ramadhan 2014. 

snr

Jumat, 20 Juni 2014

Surat Cinta



Aku selalu percaya bahwa ada hal-hal kecil dan konyol yang pada akhirnya akan menjelma kebahagiaan besar. Memberi dan diberikan sepucuk kertas berlabel ‘surat cinta’ seperti ini bisa disebut hal konyol yang cukup menghibur. Dan lagi-lagi, kita bisa mencapai kebahagian hanya jika karena kita mau menjadikan diri bahagia, bukan? Tak masalah kalau cuma hal sederhana penyebabnya. 


Surat 1 (Kak Sarah)

Darussalam, 12 juni 2014 di antara rentik-rentik hujan subuh hari
Assalamualaikum
Dear Novi, si gadis easy going

Apa kabar? (ini bukan pertanyaan basa-basi, tapi memang aku ingin tahu serius bagaimana kabarmu) aku berharap kamu selalu Allah sayang. Amin.
Kau tahu, di saat jam dinding menunjukkan angka 07.01 aku sedang makan pagi. Kata orang kesehatan, nasi yang masuk ke tubuh kita akan diproses selama 3 jam, jadi kalau makan jam segini, baru akan menjadi tenaga di jam hmmmmm jam 10 pagi, (ada ada saja), ini ceritaku pagi ini. Apa ceritamu?

Kau tahu mengapa orang tua melakukan hal apapun untuk anaknya. Karena orang tua punya harapan besar yang mereka tanam pada anaknya. Bahkan terkadang mereka merencanakan akan jadi apa anaknya kelak, meskipun terkadang mereka harus mengalah dan mengikuti kemauan anaknya tanpa melirik harapan mereka, tapi di hati terdalam, mereka tetap menggantungkan sebuah harapan besar pada anaknya.

Aku bukan, eh belum menjadi orang tua, hanya saja entah mengapa aku juga tiba-tiba menaruh harapan itu padamu, tapi berbeda dengan orang tua, aku tak sekeren mereka, aku tak bisa melakukan banyak hal untukmu, mungkin hanya serangkai doa yang kusampaikan. Tapi jangan dikira itu bukan apa-apa, belum tahu the power of doa? (tanya om google kalau mau tau :p)

Harapan itu seperti apa bentuknya? Aku tak tahu, hanya saja aku berharap dengan sikapmu yang easy going itu bisa membuat semua orang mengubah pandangan kalau akhwat itu ga ekslusif banget, tapi bisa bercampur meskipun tanpa berbaur. (kalau ga ngerti paragraf ini, PR!!) hha.. intinya novi itu udah baik, tinggal lebih luas lagi aja menyebarkan kebaikannya.

Sembilan belas kata untuk novi, melakukan hal baru itu tidak susah, hanya tinggal bertanya pada diri sendiri, mau tidak kita melakukan hal baru tersebut.

Salam sayang *smile*



Surat 2 (Eka)

To : Vape (Siti Novia)

Ketika kita saling berbisik,
Canda tawa dan bercerita
Aku pun merasakan untuk lebih lama tinggal
Pada debu, untuk memadamkan
Bekas-bekas telapak kaki
Sebelum senja, ada yang bersikeras abadi

Semangat terus buat vape. Jangan pernah puas untuk hari ini saja. Tapi ayoo bangkitkan semangatmu hingga berhasil!!!
Jangan malas nulis, kata bg Za  :D
Terus berkarya beb :*
Love you :* mmuacchh  (*Omaigat Eka, plis deh)

***

Ada beberapa surat lagi sebenarnya, tapi hanya ini yang teridentifikasi pengirimnya. Oh , ada satu surat dari Elfi, gak dipublikasikan karena isi suratnya muji semua. Beberapa lainnya juga sih, jadi berasa bukan surat cinta, lebih ke kertas berisi kritik dan saran dari murid untuk guru PPL yang mau selesai tugas ngajar di sekolah. Okelah, ga masalah.  Salam dua jari! peluk cium banyak banyaaaak. Yuhuu. :D


Note: isi dari surat setelah diketik ulang tidak mengalami perubahan, baik dari isi surat, penulisan, ejaan, sampai jumlah huruf c dan h pada kata muach. -_-